Metode HOTST Dipakai di Soal UNBK, Siswa Minim Melakukan Kecurangan

Jember – Simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahap kedua tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan sederajat dilaksanakan mulai tanggal 4-8 Februari 2018. Uniknya, tidak hanya siswa yang ikut mengerjakan soal-soal itu melainkan para guru juga dituntut untuk ikut serta sebagai peserta ujian.

Simulasi UNBK tahap pertama untuk SMKN 8 Jember menggunakan apilkasi yang dikembangkan sendiri, sedangkan simulasi kedua ini mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh dinas pendidikan. Kepala SMK Negeri 8 Jember Bapak Ir. Edi Setyono, M.Pd menjelaskan bahwa perkembangan soal yang lebih sulit, para guru juga diwajibkan ikut menjadi peserta untuk menyelesaikan soal-soal UNBK. “Simulasi kini tidak hanya siswa yang jadi peserta tapi juga para gurunya. Ini dilakukan agar para guru melihat dan mengukur seperti apa kerumitan soal-soal UNBK khususnya dengan adanya soal higher order thinking skill (HOTS) itu. Nantinya pada waktu memberikan materi dam soal latihan di kelas sudah bias mengira-ngira, seperti ini kemungkinan soal yang akan keluar pada ujian nasional nanti,” ujarnya, Jumat (31/1).

“Untuk menjadi peserta para guru juga harus memiliki username dan password agar bisa masuk dalam sistem. Para guru memilih mata pelajaran yang mereka ajarkan dikelas, misalnya Bu Laily Mazidatur R, S.Pd mengajar Bahasa Inggris, beliau juga nantinya juga ikut menjadi peserta di soal itu. Mereka sudah terdaftar bahkan mereka juga terbagi dalam session yang sudah ditentukan oleh system UNBK” Ujar Proktor utama Bu Sulistiyani P.J., S.Kom.

Mendikbud, Bapak Muhadjir Effendi mengatakan soal UNBK disusun dengan sistem higher order thinking skill test (HOTST) untuk mengetes kemampuan siswa. Soal tersebut selain berupa isian ganda, juga berupa soal isian yang hanya bisa diisi dengan angka.

“Jadi kita akan mulai memberlakukan soal-soal yang bisa mendeteksi kemampuan siswa pada level tinggi dengan menggunakan HOTST, karena ingin melibatkan guru dan kesiapan sekolah maka pelatihan-pelatihan guru. Sekarang dilatih untuk membikin soal-soal yang betul-betul baik sehingga nanti ketika siswa mengikuti UN bisa mengikuti,” ujar Muhadjir.

Dia berharap kualitas hasil UN tahun ini meningkat. Menurutnya, pelaksanaan UNBK sudah meminimalisir siswa melakukan pelanggaran.

“Harapan saya kualitasnya lebih baik dibanding tahun lalu. Kalau soal kejujuran saya kira sekarang tidak relevan lagi untuk menguji tingkat kejujuran para siswa karena memang sudah kecil kemungkinan mereka melakukan pelanggaran, penyimpangan atau praktik ketidakjujuran itu,” sambungnya. [Dny&Jgo]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *